Novel : maxialan

Beda tipis antara cinta dan benci

Pengarang : benny jurdi

Penerbit : puspa swara

Gara gara berantem lagi sama musuh besarnya, silly dipindahin ke sekolah milik orang tuanya. Sialnya, silly yang lemot dan manta nips ini malah dipaksa masuk ipa oleh mamanya. Jelas, dia syok luar biasa.! Apalagi, silly mendapat musuh baru disana. Max, ketua kelas yang bertampang berandal, namun pinternya setengah mati ini, kesel banget sama kehadiran silly. Sampe sampe dia ngadain taruhan biar silly keluar dari kelasnya. Mulai dari ngadu ulangan fisika sampai ngadu penalty. Sayang, semuanya silly yang kalah. Apa ini berarti silly mesti keluar?! Nggak! Masih ada kesempatan terakhir buat silly. So silly pun bikin rencana besar untuk mengalahkan max. berhasilkah dia?! Atau dia tetep kalah dan kena omelan mamanya terus?

Cowok berseragam itu berdiri menunduk di dalam ruangan salah satu sekolah yang cukup megah di Jakarta. Tangan kanannya mengepal keras. Badannya bergetar hebat entah kenapa. Sepertinya dia hendak melaksanakan sesuatu… yah, sesuatu. Tapi, ah hatinya nggak kuat!

Nggak lama dia kembali pada pendiriannya semula. Dia memilih tuk menyerah sebelum berperang. Mengibarkan bendera putih sebelum menccobanya. Padahal, orang tuanya sendiri sudah berusaha sekuat tenaga agar dia mau memulainya, tapi tetap tidak pilihannya. Pilihannya yang dipilih hatinya.

“ma, pa, tante, om, pliss…,” ujar cowok itu dengan nada lemah. Tatapannya sendumemandang bergantian empat sosok di hadapannya itu. “justru karena itu aku ngga mau yang lain… aku..aku nggak bias…aku nggak mau…nggak mau,om,tante.. keputusan aku udah bulat, aku akan tetap memilih kelas itu…”

Salah satu dari mereka, seorang wanita yang bersanggul, meneguk ludah khawatir. “memang sih, kelas itu nggak aneh sedikit pun. Masalah gender muridnya itu, semua serbakebetulan, tapi…” “plis, tante…”

Setelah menghentakan kakinya keras, cowok itupun membanting pintu dan keluar menuju tengh lapangan. Dia berlari. Berlari dengan segala pergumulannya. Matahari yang terik tak menjadi penghalang baginya untuk berdiri tegak disana. Dengan tangan yang mengepal, cowok itupun mendongakkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata rapat rapat. Tepat vertical di bawah matahari.

‘gue…NGGAK! Gue nggak boleh nangis.. gue mesti kuat.. karena emang inilah satu satunya jalan.. biar gue bi.-bisa..’bisa’..,’ ujarnya terbata bata dalam hati.

Nggak lama setitik demi setitik keringat pun mulai keluar dari wajahnya dan terjatuh menetes dengan ritme yang teratur di dekat sepatunya. Namun, tepat pada menit kesepuluh, kepalan tangannya melemah, melemah, dan melemah. Cowok itu berusaha untuk tetap berdiri. Tapi, entah kenapa kesadarannya malah juga mulai menghilang secara perlahan….

‘gue…gue…’

Karena memang bukan akibat keputusan yang telah diambil orang tuanya lah, cowok itu berkeras. Bukan! Hubungan di antara mereka semua memang sudah sangat baik dan terjalin bertahun tahun, sampai akhirnya mereka berani memutuskan hal ini… cowok itu juga jelas setuju dengan keputusan mereka karena memang itulah apa yang dikatakan hati kecilnya. Ta-tapi… dengan begini kan berarti dia harus…

Hanya itulah satu satunya yang sempat membuatnya ragu.

Lantai demi lantai dilalui seorang gadis dengan menggunakan lift rumah sakit. Hatinya gundah dan nyaris akan hancur karena perih. Namun, masih ada sebuah harap disitu. Harap yang menghidupkan perasaannnya. Yah, entah mengapa dia yakin banget kalau orang yang dicarinya itu berada dilanati paling atas gedung itu. Lantai 25!

‘buat apa lo diatas sana? Buat apa…’

Nggak lama, pintu lift terbuka. Dia berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong, menaiki anak tangga kecil, membuka pintu besinya, dan…

SILLY ADU JOTOS LAGI!!!

DUAGGHHH!!!