Lirik lagu

Rumor – Butiran Debu

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia

Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh 
Semua yang terjadi di antara kita ooh

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

Dalam lagu tersebut menceritakan tentang orang yang sedang patah hati , orang yang sedang patah hati bisa menciptakan lagu ,mengapa demikian ? karna isi hati yang membuat dia bisa membuat lagu tersebut , biasanya lagu yang dibuat dia menngeluarkan semua isi hatinya , jadi dia bisa membuat lagu tersebut . dalam lagu tersebut diceritakan

“Namaku cinta ketika kita bersama, berbagi rasa untuk selamannya.

Namaku cinta ketika kita bersama. berbagi rasa sepanjang usia”

bait sepertinya menceritakan keindahan hubungan cintanya yang pernah ada dan dia mengibaratkan dirinya cinta dengan sejuta keindahan yang ada ketika dia masih berada bersama pasangannya

“Hingga tiba saatnya, akupun melihat

cintaku yang khianat. cintaku berkhianat”

disini sang pujangga yang menulis sair ini ingin menuliskan dia dikhianati atau dia yang berkhianat. tapi disini ceritanya sepertinnya mereka akan berpisah

“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.

aku tenggelam dalam lautan luka dalam

aku tersesat dan tau arah pulang

aku tampamu butiran debu.”

kali ini penyair ingin memberitahukan kepada kita bahwa dia terjatuh kemudian susah untuk bangkit dari keterpurukan, susah membangun hidup kembali setelah “dikhianati atau mengkhianati” yang belum jelas tadi. dan dia juga tenggelam yang dalam keterpurukan yang tiada akhir. kemudian dia tersesat , intinnya dia tanpa kekasihnya umpama butiran debu yang maksudnya dia butiran debu yang tiada guna.